Membangun disiplin dengan pendekatan positif
Tim pengajar KYZN

Sebagian besar pertanyaan soal disiplin yang masuk ke kami bukan tentang anak yang sulit. Itu tentang anak yang lelah, jam lima sore, di rumah yang semua penghuninya sudah menjalani hari panjang.
Sebut perbuatannya, bukan anaknya
“Kamu melempar gelasnya” memberi anak dua tahun sesuatu yang bisa dikerjakan. “Kamu nakal” memberinya gambaran tentang dirinya sendiri, dan itu dipegangnya jauh setelah gelasnya terlupakan.
Kalimat yang bekerja di kelas itu pendek, diucapkan dari dekat, dan diucapkan sekali: apa yang terjadi, apa gantinya, lalu bantu dia melakukannya.
Konsekuensi harus cukup kecil untuk ditepati
Konsekuensi yang tidak sanggup dijalankan orang tua lebih buruk daripada tidak ada sama sekali. Kalau gelasnya dilempar, gelasnya disingkirkan sampai makan selesai. Bukan sehari, apalagi sepekan.
Tujuannya bukan membuat sore ini adil. Tujuannya membuat sore besok lebih singkat.
Yang kami lakukan di kelas
- Beri peringatan sebelum momennya, bukan saat momennya.
- Tawarkan dua pilihan, dan Anda harus siap dengan keduanya.
- Perbaiki bersama sesudahnya: ambil lap, kembalikan mainannya, ucapkan kalimatnya.
Tidak ada yang berhasil di pekan pertama. Biasanya mulai bekerja di pekan ketiga, yang kira-kira saat kebanyakan keluarga sudah menyerah.



